Stasiun Tanjung Priok

Get the flash player here: http://www.adobe.com/flashplayer

Hampir satu abad yang lalu, tepatnya tahun 1914, Stasiun Tanjung Priok dibangun oleh pemerintah Hindia Belanda dengan rancangan seorang arsitek Belanda bernama C.W. Koch. Pelabuhan Tanjung Priok, yang letaknya berdekatan dengan stasiun, saat itu merupakan pelabuhan penumpang utama Batavia. Pelabuhan ini memerlukan sarana transportasi praktis yang menghubungkannya dengan kota-kota lain di Jawa. Stasiun Tanjung Priok, dengan gaya arsitektur neo klasiknya, dapat dikatakan mewah pada jamannya. Selain peron, kantor petugas, dan tempat penjualan tiket, dulu stasiun ini dilengkapi hotel berlantai dua yang terletak di sayap kiri stasiun. Hotel ini memiliki bar dan ruang dansa di ruang bawah tanahnya, dan merupakan tempat para penumpang kapal laut menginap sambil menunggu kapalnya berangkat. Hotel ini memang dikhususkan untuk kaum non pribumi waktu itu. Kini, Stasiun Tanjung Priok mulai dibenahi lagi setelah sempat berhenti beroperasi tahun 2001 akibat kurangnya penumpang. Selama 8 tahun vakum, stasiun ini terabaikan dan berubah rawan karena menjadi pusat prostitusi, transaksi narkoba, serta penginapan para tunawisma. Pada April 2009, Stasiun Tanjung Priok yang juga cagar budaya ini mulai dioperasikan kembali dengan melayani rute tujuan Purwakarta, Bekasi, dan Surabaya.

Almost a century ago, in 1914 to be exact, the Tanjung Priok Railway Station was built by the Dutch East Indies government with the design of a Dutch architect named C.W. Koch. The Tanjung Priok Harbor, located just north of the station, was a main passenger harbor in Batavia. This harbor needed a practical transportation facility to connect it with the rest of the cities in Java. The Tanjung Priok Railway Station, with its neo-classical architectural style, could be classified as fancy at its time. Apart from the passenger platform, official’s office, and ticket window sites, the station was equipped with a two-stories hotel located at the left wing of the station. The hotel was a place for boats’ passengers to spend the night while waiting for the departure time. It had a bar and a dance hall on the basement part. This hotel was set aside for non-natives at the time. Nowadays, Tanjung Priok Railway Station is being refurbished after it has stop operating in 2001 due to the lack of train passengers. During its 8-years of idleness, the place was neglected and turned insecure because it was a place for prostitution, drug transactions, and the home for the homeless. In April 2009, Tanjung Priok Railway station which is also a cultural preservation site is starting to operate again, serving the routes to Purwakarta, Bekasi, and Surabaya.


This post is tagged , , , , , , , , , ,

Leave a Reply





NUSA photo adalah situs fotografi yang menampilkan dokumentasi foto kondisi sosial dan lingkungan di Indonesia.
-------------------------------------------------------------------------------------------------------
NUSA photo is a photography website that showcases photo documentaries of social and environmental issues in Indonesia.

Hak cipta semua foto di sini adalah milik NUSA photo (Nugroho Budianggoro). Pemakaian komersial foto-foto ini tanpa ijin tertulis NUSA photo adalah pelanggaran hak cipta.
-------------------------------------------------------------------------------------------------------
Copyrights of all photographs here belong to NUSA photo (Nugroho Budianggoro). Commercial use of these photos without written permission from NUSA photo is copyrights violation.
-------------------------------------------------------------------------------------------------------
Komentar, lisensi foto, penugasan, cetakan foto ~
Comments, photo licensing, assignments, prints :
Nugi (nugroho.budianggoro[a]gmail.com) +6281384649880

Arsip / Archives

Categories